Radiasi Matahari dan Iklim Bumi

Radiasi Matahari dan Iklim Bumi

Matahari dan Radiasinya

Sebelum kita belajar tentang hubungan radiasi matahari dan iklim bumi, ada baiknya kita mengetahui beberapa informasi penting tentang matahari. Pusat tata surya kita ini adalah sebuah bola pijar yang sebenarnya tidak sebegitu istimewa dibandingkan dengan bintang-bintang lainnya. Meskipun demikian, matahari adalah sumber energi utama di bumi. Tanpa matahari, tidak ada cuaca, tidak ada fotosintesis, dan tidak ada kehidupan.

Statistik matahari dapat dilihat pada tabel berikut ini:

ParameterUkuran
TipeBintang Yellow Dwarf
Usia~ 3.5 milyar tahun
Jarak ke pusat galaksi26.000 tahun cahaya
Susunan99.8% massa tata surya dengan susunan 91.0 % hidrogen, 8.9% helium
Massa70.6% hidrogen, 27.4% helium
Suhu inti15 juta derajat celsius
Suhu permukaan5500 derajat celsius
Sumber: https://solarsystem.nasa.gov/solar-system/sun

Bagian-bagian Matahari

Matahari tersusun atas 6 bagian yaitu inti matahari, zona radiatif, zona konvektif, fotosfer, kromosfer, dan korona. Inti, zona radiatif dan zona konvektif ada pada bagian interior matahari sedangkan tiga lainnya berada di area permukaan yang terlihat.

Sumber: scied.ucar.edu

Inti matahari adalah tempat terjadinya reaksi fisi dan fusi yang menghasilkan energi. Di sini suhu mencapai 15 juta derajat, cukup untuk mendukung reaksi fusi thermonuklir. Energi yang dihasilkan kemudian dibawa keluar melalui radiasi. Setelah meninggalkan sumbernya, sebagian radiasi ini akan masuk ke atmosfer bumi, menjadi sumber energi utama.

Zona radiasi adalah lapisan yang mentransport energi dari reaksi nuklir tersebut keluar melalui difusi radiasi dan konduksi thermal. Energi yang stransport di sini berupa radiasi elektromagnetik dan foton. Perlu waktu 170.000 tahun agar energi ini sampai di zona konveksi.

Berikutnya, zona konveksi adalah lapisan yang terbuat dari plasma. wilayah ini dipanasi oleh lapisan radiasi sehingga “mendidih”. Ada perbedaan suhu yang besar antara bagian bawah dan bagian atasnya. Hal ini karena di bagian atas terjadi pendinginan akibat pembentukan cahaya (light).

Bagian permukaan matahari adalah fotosfer. Ini lah yang kita lihat sebagai bola cahaya matahari. Hal ini karena di tempat inilah cahaya matahari keluar dan menjalar ke angkasa.

Di atas fotosfer ada chromosphere dan corona yang menjadi lapisan atmosfer tipis matahari. Biasanya bagian ini akan sulit terlihat dikarenakan oleh cahaya menyilaukan di fotosfer. Akan tetapi ketika gerhana, lapisan ini dapat dilihat.

Spektrum Radiasi Matahari

Sumber: visionlearning.com

Spektrum radiasi matahari dapat dipisahkan menjadi spektrum ultraviolet, visible, near-infrared, dan medium – infrared. Sebagian besar energi radiasi berada pada kanal visible. Gambar di atas menunjukkan radiasi matahari yang diterima di puncak atmosfer dan radiasi yang sampai di permukaan laut. Terlihat jelas bahwa hanya panjang gelombang tertentu yang sampai di permukaan laut. Beberapa gelombang yang berkurang dapat dilihat di tabel di bawah ini termasuk penyebabnya.

Spektrum yang berkurangPenyebab
Ultravioletdiserap oleh lapisan ozon di stratosfer
Visiblebanyak dipantulkan oleh awan dan partikel di atmosfer
Near-infraredsebagian besar diserap oleh uap air di atmosfer. sebagian lainnya diserap oleh karbondioksida
Medium-infrareddiserap oleh karbondioksida

Dengan demikian, tidak semua spektrum akan sampai di permukaan bumi, hanya beberapa spektrum sinar matahari spesifik. Fenomena ini disebut atmospheric window (jendela atmosfer). Fenomena ini adalah salah satu bagian penting dari kesetimbangan energi di bumi.

Hubungan Radiasi Matahari dan Iklim Bumi

Lintang dan bujur. Sumber: Vega 2017

Pengaruh Lintang

Lintang adalah garis khayal yang membagi bumi menjadi beberapa bagian dari utara ke selatan dan paralel dengan ekuator. Sudut yang dibentuk oleh gari yang menghubungkan pusat bumi ke ekuator dan garis yang menghubungkan pusat bumi ke tempat tertentu adalah sudut lintang tempat tersebut. Ekuator memiliki lintang 0 derajat sedangkan pusat kutub memiliki lintang 90 derajat. Ini juga dapat menjadi ukuran seberapa jauh suatu lokasi terhadap khatulistiwa. Garis khayal satu lagi, bujur, adalah garis yang tegak lurus dengan lintang dan biasanya digunakan untuk mengetahui area waktu suatu tempat.

Apa hubungannya Lintang dengan iklim?

Hal ini terkait dengan sudut datang matahari. Sudut datang sinar matahari adalah sudut yang dibentuk oleh matahari dan permukaan bumi. Pada siang hari, ketika sudut datang tegak lurus, radiasi yang diterima bumi lebih banyak. Berbeda dengan kondisi ketika sudut datang sinar matahari rendah, radiasi juga semakin rendah. Semakin jauh suatu tempat dari ekuator, sudut datang sinar matahari yang diterima semakin rendah. Alhasil, Radiasi yang diterima pun semakin sedikit. Inilah yang akan mempengaruhi suhu di tempat itu yang selanjutnya akan ada hubungannya dengan parameter-parameter lainnya.

Jarak yang ditempuh matahari
Cahaya matahari yang melewati atmosfer menuju permukaan Bumi. Sumber: Hidore, et. al (2010)

Sudut datang sinar matahari yang pendek juga mempengaruhi seberapa jauh jarak yang harus ditempuh oleh radiasi matahari dari atmosfer bagian atas sampai ke permukaan. Semakin rendah sudut datangnya, radiasi perlu menempuh jarak yang lebih jauh. Dengan demikian akan terjadi pelemahan kekuatan sinar. Oleh karena itu, wilayah yang jauh dari khatulistiwa akan menerima sinar yang kekuatan radiasinya lebih lemah dibandingkan dengan ekuator.

Pelemahan sinar matahari (attenuation) ini terjadi akibat adanya berbagai partikel di atmosfer termasuk gas-gas penyusun atmosfer. Sinar yang perlu menempuh jarak yang lebih jauh akan mengalami lebih banyak hambatan seperti penyerapan, pemantulan dan pembauran. Kalau hambatan lebih banyak, cahaya yang sampai di permukaan pun lebih sedikit.

Selain hal tersebut, adanya beam spreading (penyebaran sinar) juga akan mempengaruhi kuat lemahnya energi yang diterima. Coba saja bayangkan ketika menggunakan senter. Saat menyinari tembok dengan sudut tegak lurus, area yang disinari lebih sempit dan penyinaran lebih intensif. Berbeda halnya ketika memiringkan sudut datang senter, lebih banyak area yang disinari sehingga penyinaran yang didapat juga melemah. Ini juga terjadi pada sinar matahari yang menyinari bumi. Hal ini juga jawaban kenapa sinar matahari ketika jam 12 siang lebih menyengat dibandingkan sinar matahari pagi dan sore hari.

Jadi, pengaruh lintang ada tiga: lintang lebih tinggi akan mengalami sudut datang sinar matahari yang rendah, attenuasi yang lebih besar serta penyebaran sinar yang lebih besar pula. Ada satu lagi pengaruh lintang berkaitan dengan iklim yaitu perbedaan lama siang dan malam hari di suatu titik. Namun, variasi ini akan kita bahas di subbab berikutnya.

Revolusi Bumi

Jika digabungkan dengan faktor lain, revolusi bumi akan memberikan variasi musiman selama setahun. Perlu diketahui juga bahwa bentuk rotasi bumi adalah elips, bukan bulat sempurna. Sehingga akan ada periode dimana jarak bumi ke matahari lebih jauh dan juga periode dimana jarak bumi dan matahari lebih dekat. Jarak terjauh bumi ke matahari disebut titik aphelium (sekitar 4 Julitiap tahun) sedangkan jarak terdekat bumi-matahari disebut titik perihelium (sekitar 3 Januari tiap tahun). Perbedaan jarak ini akan mempengaruhi variasi musiman di Bumi. Saat ini beda jarak antara perihelium dan aphelium adalah 5.1 juta kilometer, menghasilkan variasi 3.4 persen. Artinya, di bulan Januari, sinar matahari yang mencapai bumi 6.8% lebih banyak dibandingkan ketika Juli

Rotasi Bumi

Perputaran bumi pada porosnya disebut rotasi bumi. Ini adalah salah satu hal yang mempengaruhi sudut datang matahari di suatu tempat. Periode rotasi bumi adalah satu hari (24 jam). Ini adalah alasan terjadinya sirkulasi diurnal (harian). Selain lintang, rotasi bumi adalah satu-satunya hal lain yang mempengaruhi sudut datang sinar matahari. Jika efek ini digabungkan dengan kemiringan bumi dan revolusi Bumi, yang dihasilkan adalah beda panjang siang dan malam hari. Lebih jelas akan dijelaskan pada subbab kemiringan poros Bumi.

Kemiringan Poros Bumi Dan Paralelisme

Kemiringan poros Bumi terhadap bidang revolusinya sekitar 23.5 derajat. Hal ini berarti, selama berotasi, posisi bumi akan selalu miring. Posisinya ketika revolusi akan menentukan belahan bumi mana yang lebih dekat dengan matahari serta bagian yang jauh dari matahari.

Sumber: Vega (2017)

Tidak peduli Bumi berada di sebelah mana ketika revolusi, kemiringan bumi selalu menunjuk arah yang sama. Ini disebut paralelisme, artinya meskipun berpindah-pindah, garis poros bumi akan selalu paralel antara posisi bumi sebelum maupun sesudahnya.

Nah, ketika ketiga efek ini digabungkan (Revolusi, Rotasi, dan Kemiringan), terjadilah hal-hal berikut ini:

  1. Gerak semu matahari
  2. Pergantian musim
  3. Perbedaan panjang siang dan malam hari
  4. Perbedaan karakter meteorologis pada setiap musim yang berbeda

Gerak semu matahari adalah efek pertama yang terjadi. Matahari akan terlihat bergerak utara-selatan sesuai dengan revolusinya. Ini juga memberi pengaruh pada pergerakan kolam panas di ekuator (wilayah laut yang memiliki suhu muka laut lebih tinggi dibandingkan sekitarnya). Pergerakan kolam panas ini nantinya akan berpengaruh terhadap pergerakan lokasi Intertropical Convergence Zone (ITCZ) yang bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian hujan lebat di Indonesia.

Secara umum tropis tidak memiliki pergantian musim terkait dengan suhu jika kita lihat dari seberapa kecil variasi suhu musimannya dibandingkan dengan variasi harian. Sedangkan, wilayah lintang menengah, sedang dan tinggi mengalami variasi suhu musiman yang signifikan. Lintang menengah dan sedang akan mengalami empat musim yang berbeda, yakni: Musim semi (spring), musim panas (summer), musim gugur (fall/autumn), dan musim dingin (winter). Kondisi kutub berbeda. Selama 6 bulan kutub tidak mendapat sinar matahari sama sekali dan sebaliknya untuk 6 bulan berikutnya. Meskipun Kutub menerima sinar matahari selama 6 bulan terus menerus, pengaruh lintang menyebabkan energi yang diterima selalu kecil. Sehingga, wilayah ini selalu dingin.

Kondisi tiap Musim

Ketika musim semi utara (musim gugur selatan) dimulai (21 Maret), Bumi berada pada posisi equinox. Di posisi ini, kemiringan bumi tidak menghadap ke matahari, sehingga, jumlah sinar matahari yang diterima belahan bumi utara dan belahan bumi selatan sama. Panjang siang dan malam hari di semua tempat sama (12 jam siang, 12 jam malam). Ekuator akan menerima panas optimum mengingat posisi matahari tepat di atas ekuator.

Di bulan Juni, kemiringan poros bumi menghadap matahari dimana belahan bumi utara (BBU) menerima sinar matahari yang lebih banyak dibandingkan dengan belahan bumi selatan. Jarak tempuh sinar matahari di atmosfer bumi untuk BBU lebih pendek (sebaliknya untuk BBS). Yang membuat perbedaan BBU dan BBS makin tajam adalah panjang siang dan malam hari. BBS lebih jauh dari matahari dan menerima sinar matahari dalam waktu yang pendek (malam lebih lama daripada siang). BBU sendiri menerima cahaya matahari lebih lama (siang lebih panjang dibanding malam). Hasilnya, saat ini BBU mengalami musim panas dan BBS mengalami musim dingin. Meskipun demikian, tropis tetap panas namun kutub utara lebih hangat dibandingkan kutub selatan.

Equinox kedua terjadi pada akhir bulan September (tanggal 22). Kondisi yang terjadi mirip dengan kondisi ketika musim semi di utara. Bedanya, pada periode ini, musim semi terjadi di belahan bumi selatan dan musim gugur terjadi di belahan bumi utara.

Di bulan desember, kemiringan poros Bumi menyebabkan BBS lebih condong ke matahari sehingga menerima lebih banyak sinar matahari. Jarak yang ditempuh matahari untuk menembus atmosfer bumi sampai ke permukaan di BBU lebih jauh. Saat ini, pengurangan radiasi dan sebaran sinar di BBU lebih besar dibanding BBS. Karena cahaya yang sampai sedikit, ditambah dengan panjang siang hari yang pendek, BBU mengalami musim dingin. Sebaliknya, BBS mengalami hal yang bertolak belakang. Pada periode ini BBS mengalami musim panas.

Siklus Milankovitch

Siklus Milankovitch ini sudah diamati sejak seratus tahun yang lalu oleh ilmuan Serbia, Milutin Milankovitch. Nama siklus ini diambil dari penemu pertamanya. Milankovitch mengatakan bahwa perubahan posisi Bumi relatif terhadap matahari merupakan penggerak utama dari perubahan iklim jangka panjang. Jangka panjang di sini ukurannya 100.000 tahun atau lebih dari 400.000 tahun. Siklus ini juga yang bertanggung jawab atas dimulainya dan berhentinya jaman es.

Ada tiga siklus utama yang menjadi bagian dari perhitungan siklus Milankovitch, yaitu: Eksentrisiyas (Eccentricity), Obliquity, dan Presisi (Precession). Variasi dari tiga hal ini dikaitkan dengan insolasi (incoming solar radiation – radiasi matahari datang) di bagian atmosfer teratas dan dimana radiasi ini sampai. Gara-gara pergerakan orbit ini, lintang menengah mengalami variasi insolasi sampai 25%. Ini juga adalah salah satu penyebab perubahan iklim dunia. Faktor penyebab perubahan iklim lengkap dapat dilihat pada artikel ini

GerakPenjelasanPeriode
Eksentrisitas (Eccentricity)Variasi bentuk orbit planetRata-rata 100.000 tahun, paling panjang 413.000 tahun
ObliquityVariasi kemiringan poros planet terhadap garis orbitnya41.000 tahun
Presisi (Precession)Variasi arah dari rotasi planet23.000 tahun
Komponen-komponen siklus Milankovitch

Eksentrisitas (Eccentricity)

Eccentricity-NASA

Matahari adalah pusat massa tata surya (>99% massa tata surya adalah matahari). Oleh karena itulah planet-planet yang bergerak mengelilingi matahari dengan orbit melingkar. Akan tetapi, karena pengaruh planet yang lebih besar (Jupiter dan Saturnus), bentuk orbit bumi tidak bisa bulat sempurna melainkan elips. Hal ini diukur dengan eksentrisitas yaitu seberapa menyimpang orbit bumi dari bentuk bulat sempurna. Variasi bentuk orbit bumi (mendekati lingkaran sempurna – agak bulat telur) terjadi dalam siklus dengan periode 100.000 tahun dengan nilai eksentrisitas antara 0.00034 – 0.058 (nilai eksentrisitas orbit bulat sempurna = 0, parabola = 1)

Pengaruh utama eksentrisitas adalah jarak antara bumi dan matahari. Jarak yang semakin jauh akan melemahkan energi cahaya matahari yang sampai ke permukaan bumi. Inilah yang menyebabkan empat musim yang terjadi di bumi memiliki panjang periode yang agak berbeda. Musim panas di BBU saat ini 4.5 hari lebih panjang dibandingkan musim dingin, dan musim semi 3 hari lebih panjang daripada musim gugur. Kalau bentuk orbit bumi semakin mendekati bulat sempurna, panjang musim akan lebih seimbang.

Ketika bentuk orbit bumi paling elips (eksentrisitas = 0.058), beda jumlah radiasi yang diterima ketika jarak bumi paling dekat dan ketika jarak bumi paling jauh dari matahari adalah sebesar 23%. Saat ini eksentrisitas Bumi berada di kisaran 0.0016 (mendekati bulat) sehingga beda jumlah radiasi perihelium-aphelium agak berkurang. Perubahan insolasi global karena siklus eksentrisitas sangat kecil. Karena variasi eksentrisitas Bumi kecil, ini hanyalah faktor minor dalam variasi iklim musiman dan tahunan.

Obliquity

Obliquity-NASA

Obliquity adalah kemiringan poros bumi terhadap garis orbitnya ketika berotasi. Kemiringan inilah yang dimaksud sebagai penyebab Bumi memiliki musim. Hal ini akan mempengaruhi seberapa ekstrim perbedaan musim yang terjadi. Efek ini akan banyak berpengaruh pada wilayah yang dekat dengan batas 23.5 LU – 23.5 LS. Variasi kemiringan sendiri sebesar 22.1 – 24.5 derajat dengan periode siklus 41.000 tahun.

Sekarang ini poros bumi miring 23.4 derajat. Nilainya dekat dengan nilai tengah dengan besaran yang trendnya menurun. Dengan berkurangnya kemiringan, Musim panas dan musim dingin seharusnya tidak terlalu ekstrim, menghasilkan musim dingin yang lebih hangat dan musim panas yang lebih sejuk. Hal ini seharusnya berkontribusi terhadap meningkatnya tutupan es di kutub maupun pegunungan tinggi. Namun, hal sebaliknya yang saat ini terjadi.

Precession (Presisi)

Axial Precession NASA

Ketika berotasi, Bumi tidak sepenuhnya berotasi dengan sempurna pada porosnya, terkadang goyangan rotasi dapat terjadi. Goyangan ini adalah dampak dari pengaruh gravitasi matahari dan bulan yang menghasilkan gaya tidal. Dampak lain dari hal ini adalah bentuk bumi yang bulat pepat (bukan bulat sempurnya). Goyangan terhadap porosnya disebut axial precession (periode 25.771,5 tahun). Satu lagi, ada yang disebut apsidal precession yaitu goyangan irreguler dari orbit bumi (periode 112.000 tahun).

Axial precession mempengaruhi kontras yang lebih tinggi di salah satu belahan bumi dan kontras lebih rendah di belahan bumi lainnya. Saat ini, perihelium terjadi ketika musim dingin di belahan bumi utara dan musim panas di belahan bumi selatan. Penambahan lebih banyak sinar matahari pada saat ini menyebabkan musim dingin di belahan bumi utara lebih ‘mild’ atau tidak terlalu dingin sedangkan musim panas di belahan bumi selatan lebih panas. Hal sebaliknya ketika aphelium, belahan bumi selatan akan lebih dingin ketika musim dingin menghasilkan musim dingin yang lebih ekstrim sedangkan di BBU akan mendapatkan musim panas yang tidak terlalu panas. dengan demikian, secara keseluruhan, BBU kurang ekstrim dibandingkan dengan BBS. Variasi iklim di BBS lebih tinggi.

Apsidal precession dihasilkan akibat interaksi dengan Jupiter dan Saturnus sehingga bentuk orbit bergoyang, sedikit keluar dari orbit utamanya. Periode presisi apsidal sekitar 112.000 tahun. Kombinasi axial dan apsidal precession menghasilkan siklus dengan periode rata-rata 23.000 tahun.

Teori Milankovitch ini baru diseriusi 10 tahun sejak kematian penemunya (1958). Barulah ketika tahun 1976, Hays et. al mendapati bahwa teori ini erat kaitannya dengan perubahan iklim 450.000 tahun yang lalu melalu penelitiannya terhadap sedimen laut dalam. Riset rekonstruksi iklim masa lalu menggunakan inti es di Greenland dan Antartika juga turut mendukung penemuan ini. Sekarang, teori ini merupakan bagian yang penting untuk memahami perubahan iklim yang terjadi. Apakah perubahan iklim disebabkan oleh faktor astronomis ataukah faktor manusia?

Secara umum, Milankovitch beranggapan bahwa radiasi pada suatu lintang dan pada musim tertentu lebih penting dibandingkan faktor lainnya ketika mempelajari tentang pertumbuhan dan pengurangan lapisan es. Dia juga berpendapat bahwa obliquity adalah siklus yang paling penting dari tiga siklus iklim yang ada. Menurut perhitungannya, jaman es akan terjadi setiap 41.000 tahun. Ini juga didukung oleh penelitian lanjutan yang menemukan bahwa sekitar satu sampai 3 juta tahun yang lalu, jaman es memang terjadi setiap 41.000 tahun. Namun, sekitar 800.000 tahun yang lalu, siklus jaman es semakin lama (100.000 tahun) seseuai dengan eksentrisitas Bumi. Kenapa ini bisa terjadi? belum banyak diketahui.

Meskipun kelihatannya teori ini akan memberikan dukungan terhadap dominasi faktor astronomis terhadap perubahan iklim, kenyataannya perubahan iklim yang terjadi sekarang tidak cocok dengan trend siklus Milankovitch (yang harusnya mendingin, bukan memanas). Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa perubahan iklim yang terjadi sekarang didominasi oleh faktor lain. Selengkapnya bisa lihat artikel faktor-faktor penyebab perubahan iklim lengkap.

Apakah Perubahan Iklim disebabkan oleh variasi radiasi matahari?

Bisa disebabkan oleh hal itu namun dari penelitian tentang siklus Milankovitch, faktor astronomis tidak dominan mempengaruhi perubahan iklum yang sekarang terjadi

Apa itu siklus Milankovitch?

Siklus yang memberi gambaran variasi penerimaan energi cahaya matahari di Bumi berdasarkan pergerakan Bumi, Matahari dan benda-beda astronomis di tata surya. Siklus ini dapat menjelaskan dengan baik terjadinya jaman es.

Siklus apa saja yang menjadi bagian dari siklus Milankovitch?

Ada tiga siklus utama yang menjadi bagian dari perhitungan siklus Milankovitch, yaitu: Eksentrisiyas (Eccentricity), Obliquity, dan Presisi (Precession). Variasi dari tiga hal ini dikaitkan dengan insolasi (incoming solar radiation – radiasi matahari datang) di bagian atmosfer teratas dan dimana radiasi ini sampai.

Apa Pengaruh Lintang Terhadap Radiasi Matahari yang diterima Bumi?

lintang lebih tinggi akan mengalami sudut datang sinar matahari yang rendah, attenuasi yang lebih besar serta penyebaran sinar yang lebih besar pula. Ada satu lagi pengaruh lintang berkaitan dengan iklim yaitu perbedaan lama siang dan malam hari di suatu titik.

Apa dampak kemiringan, rotasi, dan revolusi Bumi terhadap iklim?

Gerak semu matahari
Pergantian musim
Perbedaan panjang siang dan malam hari
Perbedaan karakter meteorologis pada setiap musim yang berbeda

Referensi

  1. Hidore. J.J . Olover J. E, Snow M., and Snow  R, (2010): Climatology, An Atmospheris Sciences, Perason Education, Inc
  2. Vega, Anthony J. Climatology. Jones & Bartlett Learning, 2017.
  3. https://solarsystem.nasa.gov/solar-system/sun/in-depth/
  4. https://www.visionlearning.com/es/library/Ciencias-de-la-Tierra/6/Factors-that-Control-Earths-Temperature/234
  5. https://climate.nasa.gov/news/2948/milankovitch-orbital-cycles-and-their-role-in-earths-climate/
  6. https://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_Milankovitch

veanti

Siapa penulis utama veantiworld.com? Blog ini dibuat, dikelola, dan ditulis oleh Desak Putu Okta Veanti. Penulis adalah dosen jurusan klimatologi dan juga salah satu lulusan terbaik Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Penulis lulus Master Program of School of Integrated Climate System Science, University of Hamburg, Germany pada tahun 2017. Saat ini penulis aktif menekuni pekerjaan sebagai dosen, menulis blog, belajar Python, meningkatkan kemampuan bahasa asing, serta mencari informasi mengenai pseudo-science seperti astrologi dan tarot.

Tinggalkan Balasan