KASUS KEKERINGAN DI SEMARANG DAN CARA ANTISIPASINYA

KASUS KEKERINGAN DI SEMARANG DAN CARA ANTISIPASINYA

Oleh: Muhammad Zaki Ramdhani (Taruna Jurusan Klimatologi STMKG)

Profil Kota Semarang

Kota Semarang dalah salah satu Kota di Jawa Tengah dan merupakan Ibu Kota provinsi di Jawa Tengah, selain itu kota Semarang dapat digolongkan sebagai kota Metropolitan. Sebagai ibukota provinsi, Kota Semarang menjadi parameter kemajuan kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah. Kemajuan pembangunan Kota Semarang tidak dapat terlepas dari dukungan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Kota Ungaran, Kabupaten Demak, Kota Salatiga dan Kabupaten Kendal. 

Kota Semarang juga terkenal dengan masyarakatnya yang secara umum masih bercocok tanam untuk menanam padi dan palawija. Karena itulah Ketika terjadi pergantian musim dari musim penghujan menuju musim kemarau maka sering ditemui kasus-kasus kekeringan di berbagai wilayah kota ini. Kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang banyak terjadi pada musim kemarau di wilayah yang memiliki ketersediaan cadangan air rendah. Kekeringan bukan merupakan bencana yang memiliki dampak langsung ketika terjadi, melainkan merupakan bencana yang semu yang terjadi secara perlahan dan dampaknya akan dirasakan kemudian. Bencana kekeringan pada dasarnya tidak diketahui waktu mulai terjadinya serta waktu berakhirnya.  Masyarakat  yang terdampak biasanya akan menyadarinya setelah air sumur kering, PDAM macet, atau pun penyedotan air tanah hanya keluar udara. Sehingga bencana kekeringan sering disebut sebagai creeping disaster atau  bencana  merangkak. Hal ini berbeda dengan bencana erupsi gunung api maupun gempa bumi yang memiliki dampak secara langsung dan terlihat setelah terjadi bencana (Rivi Neritarani, 2019).

Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) bencana kekeringan di Provinsi Jawa Tengah telah menjadi salah satu bencana nasional. Pada bulan September tahun 2017, BNPB menetapkan 12 Kabupaten  di Provinsi Jawa Tengah sebagai wilayah Tanggap Darurat karena bencana kekeringan yang melanda sangat parah dan penduduknya sangat membutuhkan  air bersih. 12 Kabupaten tersebut antara lain: Kabupaten Rembang, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Klaten, Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Blora, Kabupaten.

Gambar 1. Sebaran wilayah tanggap darurat bencana kekeringan Provinsi Jawa Tengah Sumber: Data BNPB dan hasil pengolahan data, 2017

Karena hal itulah pada artikel kali ini, Penulis akan memaparkan bagaimana kasus kekeringan terjadi pada wilayah Semarang dan juga bagaimana tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk mengantisipasi kasus kekeringan ini

Faktor penyebab Kekeringan

Menurut Henny Pratiwi Adi didalam jurnal Seminar Nasional Mitgasi dan Ketahanan Bencana, kekeringan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya curah hujan saja, tetapi ada beberapa faktor lain yang berpengaruh, antara lain :

a. Faktor Meteorologi

Kekeringan yang disebabkan oleh faktor meteorologi merupakan ekspresi perbedaan presipitasi dari kondisi normal untuk suatu periode tertentu, karena itu faktor meteorologi bersifat spesifik wilayah sesuai dengan iklim normal di suatu wilayah. Selain dipengaruhi oleh dua iklim pulau Jawa juga dipengaruhi oleh dua gejala alam yaitu gejala alam La Nina yang dapat menimbulkan banjir dan gejala alam El Nino yang menimbulkan dampak musim kemarau yang kering.

b. Faktor Hidrologi

Pada saat ini kondisi hutan di Jawa Tengah cukup memprihatinkan dan pada tahun-tahun terakhir ini sering terjadi penjarahan hutan dan pemotongan pohon yang tidak terpogram, sehingga menyebabkan gundulnya tanah di daerah tangkapan air, hal ini menyebabkan bertambahnya koefisien run-off dan berkurangnya resapan air ke dalam tanah (infiltrasi). Kondisi ini sangat berpengaruh dengan berkurangnya air yang meresap ke dalam tanah maka variabilitas aliran sungai akan meningkat dan pada musim kemarau berkurang pula debit air pada sungai-sungai sebagai sumber air yang menyebabkan kekeringan di bagian hilir sungai tersebut.

c. Faktor Agronomi

Kekurangan kelembaban tanah menyebabkan tanah tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu, karena itu apabila para petani tidak disiplin dan tidak patuh pada pelaksanaan Pola Tanam dan Tata Tanam yang telah disepakati dan merupakan salah satu dasar untuk perhitungan kebutuhan air, maka akan mempengaruhi efektifitas dan efisiensi pemberian air untuk tanaman.

d. Faktor Prasarana Sumberdaya Air

Dengan meningkatnya kebutuhan air untuk irigasi, air minum, industri, rumah tangga dan berbagai keperluan lainnya, maka diperlukan ketersediaan air yang lebih banyak pula, sedangkan air yang tersedia sekarang jumlahnya terbatas. Di sisi lain prasarana sumber daya air sebagai penampung air seperti waduk, embung dan lain-lain masih sangat terbatas, disamping kondisi prasarana yang ada tersebut banyak yang rusak atau kapasitasnya menurun.

e. Faktor Penegakan Hukum

Kurangnya kesadaran masyarakat/aparat dan belum terlaksananya penegakan hukum secara tegas menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan bencana kekeringan yaitu pencurian air, perusakan sarana dan prasarana sumberdaya air sehingga mengakibatkan kesulitan pembagian air yang akhirnya menimbulkan kerugian serta konflik antar pengguna karena tidak terpenuhinya kebutuhan air.

f. Faktor Sosial Ekonomi

Tingkat sosial ekonomi masyarakat di sekitar sumber air mempengaruhi tingkat partisipasi dan handarbeni masyarakat akan pentingnya pelestarian sumberdaya air dan lingkungannya karena tata guna lahan yang tidak serasi (tidak sesuai Master Plan/Tata Ruang Wilayah) serta pemakaian air yang tidak efisien.

Analisis Kekeringan

Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun). Pada dasarnya fenomena kekeringan ini dapat terjadi jika suatu wilayah memiliki curah hujan dibawah rata-rata secara terus menerus. Kekeringan dapat menjadi bencana apabila mulai menyebabkan suatu wilayah kehilangan sumber pendapatan akibat gangguan pada pertanian dan ekosistem.

Pada analisis kali ini penulis akan menggunakan data curah hujan rata-rata bulanan dan telah di proses menggunakan indeks SAI (Standarized Anomaly Index) dan di olah menjadi sebuah grafik. Berikut adalah tampilan grafik yang telah di olah menggunakan SAI index:

Gambar 2. Hasil pengolahan data Curah Hujan bulanan menggunaakan indeks SAI

Stasiun Meteorologi Tanjung Emas berada di Kota Semarang tepatnya pada kecamatan semarang Utara, pada stasiun Meteorologi Tanjung Emas ini ditemukan juga memiliki nilai SAI yang bervariasi. Pada grafik di atas ditunjukkan dengan balok yang menjulang ke atas dan juga ke bawah. Balok pada grafik menjulang ke atas berarti pada tahun tersebut SAI bernilai positif dan pada tahun itu juga akan mengalami periode basah. Dan sebaliknya jika balok pada grafik menjulang ke bawah menandakan pada daerah tersebut memiliki nilai SAI yang negatif dan mengalami periode kering. Periode basah melambangkan bahwa pada daerah dan waktu tersebut mengalami surplus air yang melimpah, sedangkan untuk periode kering melambangkan bahwa pada saaat tersebut terjadi defisit air dan daerah tersebut akan dilanda kekeringan.

Periode kering dan basah pada grafik 2 memiliki jarak yang lebar antara periode basah katagori rendah dan periode basah katagori tinggi, dengan adanya periode basah katagori sedang selama 2 tahun saja yaitu pada tahun 2013, dan 2014. Dan pada tahun-tahun yang lain didominasi oleh periode basah katagori rendah dan ada 2 tahun juga yang memiliki periode basah katagori tinggi yaitu pada tahun 2008 dan 2010. Sedangkan untuk periode keringnya memiliki keragaman yang cukup stabil dengan jarak yang tidak terlalu jomplang antara periode kering katagori rendah dan periode kering katagori tinggi. Pada periode kering didominasi oleh katagori sedang yaitu pada tahun 1992, 1994, 2002, 2005, 2007, 2019, dan hanya memiliki 1 periode kering katagori tinggi yaitu pada tahun 2015 saja dengan jarak yang tidak terlalu lebar tentunya.

Dari hal tersebut tentunya dapat kita amati bahwa selama 30 tahun di daerah Semarang mengalami tahun tahun yang cukup bervariasi terkait curah hujan. Banyak ditemukan bahwa pada daerah ini mengalami kejadian surplus air secara rendah dan kekeringan secara rendah saja. Karena hal inilah warga pada daerah ini bisa melakukan penanaman bahan pangan pokok seperti palawija atau menanam padi. Dikarenakan banyak di dominasi oleh kejadian surplus air secara rendah dan kekurangan air secara rendah, maka warga pada daerah Semarang cenderung menyesuaikan kondisi untuk penanaman palawija ataupun padi. Jadi jika terjadi kelebihan air makan akan digunakan untuk menananm padi, dan sebaliknya jika terjadi kekurangan air akan digunakan untuk menanam palawija. Karena karakteristik palawija sendiri tidak akan bisa tumbuh secara maksimal jika terus menerus terendam oleh air.

Selain itu jika terjadi anomali iklim seperti kasus kekeringan yang sangat ekstrem maka akan menyusahkan warga untuk melaluinya, seperti pada tahun 2015 dan 2019. Dikarenakan kebutuhan air yang banyak tetapi tidak diiringi dengan adanya kualitas dan kuantitas air yang memadai, maka banyak terjadi kasus kekurangan air. Kasus kekurangan air ini terjadi di banyak wilayah dan karena itulah pemerintah kota semarang bekerja sama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)  berusaha untuk memfasilitasi warga yang mengalami kasus kekeringan. Tercatat pada Kelurahan Rowosari dengan katagori kekeringan tidak parah dan selama terjadi peristiwa kekeringan memerlukan bantuan dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) sebanyak 90 tanki air yang memiliki kapasitar 5000 liter. Selain itu pada Kabupaten Semarang tercatat sebanyak 77 Dusun dari 33 Desa dan tersebar di 14 Kecamatan mengalami rawan kekeringan.

Antisipasi Kekeringan

Dikarenakan setiap tahunnya pada wilayah Semarang mengalami peristiwa kekeringan, maka diperlukan tindakan yang efektif untuk mengantisipasi jika peristiwa kekeringan terjadi. Oleh karena itu BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) wilayah Jawa Tengah memaparkan beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya peristiwa kekeringan, yaitu:

  1. Mendirikan Embung

Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan seperti miniature dari waduk yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau. Embung bisa membantu untuk mengairi lahan yang kering, sehingga tanaman tidak mati karena kekurangan air. Selain itu , embung bisa dimanfaatkan oleh warga sebagai suplai air tambahan untuk kebutuhan seperti mencuci pakaian dan untuk mandi, tetapi tidak dianjurkan untuk meminum air dari embung.

  • Mendirikan Waduk

Waduk adalah tempat pada permukaan tanah yang digunakan untuk menampung air saat terjadi kelebihan air / musim penghujan sehingga air itu dapat dimanfaatkan pada musim kering. Waduk buatan dibangun dengan cara membuat bendungan yang lalu dialiri air sampai waduk tersebut penuh. Sumber air waduk terutama berasal dari aliran permukaan dtambah dengan air hujan langsung. Selain mendirikan sebuah waduk, warga juga diharuskan untuk menjaga kestabilan kandungan tanah di dalam waduk. Dikarenakan semakin tinggi tanah didalam waduk tersebut, maka kapasitas air dalam waduk tersebut akan semakin berkurang. Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pengerukan waduk menggunakan alat berat agar kapasitas didalam waduk bisa lebih banyak dan bisa digunakan oleh masyarakat secara umum.

  • Melakukan Penghijauan

Penghijauan merupakan cara sederhana mengatasi kekeringan saat musim kemarau. Penghijauan sebaiknya dilakukan di daerah hulu diikuti dengan melakukan pengurangan konversi lahan didaerah hulu. Dikarenakan konversi lahan bisa mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap air hujan. Lalu penghijauan nantinya bisa memberikan manfaat untuk mengurangi sedimentasi sehingga tidak akan terjadi pendangkalan waduk.

  • Koordinasi secara langsung oleh pihak BPBD daerah setempat

Dalam upaya antisipatif menghadapi ancaman bahaya kekeringan BNPB telah melakukan koordinasi dengan daerah berpotensi terdampak kekeringan, untuk melakukan pengurangan risiko bencaana dan kesiap siagaan menghadapi bencana kekeringan dan asap, dengan cara:

  1. Melakukan pemantauan dan peninjauan lapangan/ groundcheck bersama dinas-dinas terkait untuk mengantisipasi dan menangani terjadinya bencana kekeringan.
  2. Mengambil langkah-langkah penguatan kesiap siagaan pemerintah dan masyarakat terkait ancaman kekeringan di daerah masing-masing, antara lain:
  3. Menyiapkan logistik dan peralatan, seperti tangki air bersih dan penyediaan pompa air di tiap kecamatan, diprioritaskan pada wilayah yang terdampak kekeringan.
  4. Berkoordinasi dengan petugas pintu air sungai untuk melakukan pembagian air untuk pertanian, peternakan dan kebutuhan sehari-hari.
  5. Mengecek debit air pada beberapa sungai maupun kali yang melintasi daerahnya.
  6. Mengintensifkan koordinasi dengan PDAM, terutama dalam penerapan sistem gilir aliran.
  7. Melakukan kampanye hemat air.
  8. Berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk membuat sumur pantek atau sumur bor untuk mendapatkan air.
  9. Menyiapkan/ meng-update dan mensimulasikan rencana kontinjensi menghadapi ancaman kekeringan dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan dan menyusun rencana operasi atau SOP-nya dengan melibatkan seluruh stakeholder setempat termasuk TNI dan Polri.
  10. Menyiapkan helpdesk atau call center pelaporan dan pelayanan cepat penanggulangan bencana kekeringan.
  11. Mengaktifkan posko antisipasi bencana kekeringan serta mengembangkan sistem komunikasi dan informasi sampai ke lokasi rawan bencana kekeringan.

Kesimpulan

Jadi kesimpulan dari kasus di atas yaitu sebagai berikut:

  1. Kekeringan memiliki 6 faktor umum yang memicu terjadinya peristiwa kekeringan di suatu wilayah.
  2. Kekeringan di wilayah Semarang hampir terjadi setiap tahunnya, baik kekeringan katagori ringan-berat. Hal ini sangat dipengaruhi oleh lama atau singkatnya curah hujan pada daerah ini.
  3. Dari data time series di atas, bisa diberikan kesimpulan bahwa kekeringan yang paling parah terjadi pada tahun 2015 dengan indeks SAI yang bernilai lebih dari -1. Hal ini menandakan bahwa pada tahun tersebut terjadi peristiwa defisit air yang cukup parah sehingga mengakibatkan terjadinya kekeringan di berbagai wilayah di Semarang. Hal ini terjadi karena pada tahun tahun tertentu Ketika terjadi anomali iklim yang parah dibarengi dengan beberapa bencana meteorologi seperti El Nino yang menyebabkan kekeringan ataupun La Nina yang menyebabkan daerah dengan curah hujan yang tinggi.
  4. Terdapat 5 cara untuk mengantisipasi peristiwa kekeringan yang akan terjadi menurut BNPB. Hal ini dinilai efektif untuk mengurangi dampak dari peristiwa kekeringan yang akan terjadi, sehingga diharapkan warga akan lebih siap dalam menghadapi kekeringan yang akan terjadi.

Daftar Pustaka

  • Adi, H. P. (2011, July). Kondisi dan konsep penanggulangan bencana kekeringan di Jawa Tengah. In Seminar Nasional Mitigasi dan Ketahanan Bencana (Vol. 26, pp. 1-10).
  • Heryani, N. (2014). Penilaian Kesesuaian Pembangunan Dam Parit Bertingkat Untuk Antisipasi Kekeringan: Studi Kasus Di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Sumber Daya Air10(2), 113-124.
  • Neritarani, R. (2019). Identifikasi Dan Strategi Mitigasi Bencana Kekeringan Potensial Di Kabupaten Semarang. Plano Madani: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota8(1), 72-84.
  • Ersad, F., & Hidayat, Z. (2016). Implementasi Kebijakan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2012 Tentang Taruna Siaga Bencana Dalam Penanggulangan Bencana di Kota Semarang. Journal of Public Policy and Management Review5(4), 359-369.
  • http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/barat/jateng/semarang.pdf. Diakses pada tanggal 1 Juli 2021 Pukul 20.25 WIB.
  • W Suratman. 2019. Musim Kemarau Datang Hati-hati Kekeringan. https://siaga.bnpb.go.id/hkb/berita/musim-kemarau-datang-hati-hati-kekeringan. Diakses pada tanggal 1 Juli 2021 Pukul 20.15 WIB.

veanti

Siapa penulis utama veantiworld.com? Blog ini dibuat, dikelola, dan ditulis oleh Desak Putu Okta Veanti. Penulis adalah dosen jurusan klimatologi dan juga salah satu lulusan terbaik Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Penulis lulus Master Program of School of Integrated Climate System Science, University of Hamburg, Germany pada tahun 2017. Saat ini penulis aktif menekuni pekerjaan sebagai dosen, menulis blog, belajar Python, meningkatkan kemampuan bahasa asing, serta mencari informasi mengenai pseudo-science seperti astrologi dan tarot.

Tinggalkan Balasan